Kamis, 23 April 2026

Terbit : Sab, 21 Februari 2026

Jejak Gujarat dalam Bubur India di Masjid Pekojan

Oleh : Admin Artikel
Jejak Gujarat dalam Bubur India di Masjid Pekojan

Masjid Jami Pekojan, Warisan Budaya yang Terus Berlanjut

Ahmad Paserin (55) duduk menghadap tungku besar, kacamata hitam sebagai pelindung dari asap. Tangannya tak berhenti mengayun, sudip kayu menelusuri dasar dandang tembaga raksasa berisi bubur panas yang sedang diolah.

Uap putih mengepul, aroma rempah menyebar ke halaman Masjid Jami Pekojan, Jalan Petolongan Nomor 1, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Sabtu (21/2/2026). Berjam-jam ia mengaduk, tanpa jeda, demi satu rasa yang sama dari tahun ke tahun, yakni bubur india khas Pekojan.

“Kalau berhenti, bawahnya bisa gosong. Nanti baunya sangit, harus manual ngaduknya biar merata,” kata Serin, sapaan akrabnya, saat ditemui Tribun Jateng, Sabtu.

Proses panjang itu sudah menjadi rutinitas Serin selama 12 tahun terakhir tiap Ramadan. Serin bukan orang Pekojan asli. Datang dari Bojonegoro, Jawa Timur, Serin awalnya menjadi marbot masjid. Dari sanalah ia bertemu Ahmad Ali bin Ali Yasin, juru masak bubur india sebelumnya. Ilmu dapur itu kemudian diwariskan.

“Ilmu ini sudah turun-temurun. Kami ini cuma meneruskan dari orang-orang tua dulu,” ujarnya. Sejak Ahmad Ali bin Ali Yasin meninggal, beberapa tahun lalu, Serin dipercaya menjadi kepala juru masak bubur india.

Bubur india atau bubur pekojan bukan sekadar menu takjil. Ia dipercaya sebagai warisan para musafir dari Gujarat yang singgah dan menetap di Semarang sekitar abad ke-19. Para pendatang itu kemudian bermukim dan berdagang di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Pekojan.

“Resepnya sudah dari awal. Sudah lama sekali. Mungkin sudah 100 tahun lebih,” ujar Serin. Ia tak pernah mencatat tanggal atau tahun pasti. Yang ia tahu, bubur ini selalu hadir setiap Ramadan, dari generasi ke generasi.

Rasanya pun menjadi titik temu dua budaya. Rempah khas India berpadu dengan santan dan selera Nusantara.

“Ini kolaborasi masakan India dan Indonesia,” katanya.

Proses Memasak Bubur India yang Rumit

Memasak bubur India dimulai sejak pagi mempersiapkan bahan-bahan, kemudian air direbus hingga mendidih, lalu rempah, santan dan sayuran dimasukkan pelan-pelan. “Ada wortel, daun bawang, bawang merah, bawang putih, daun salam, kayu manis, serai, jahe, dan pandan,” kata Serin.

Yang memberi karakter kuat adalah kaldu sapi. Beberapa tulang sapi direbus lama, menyatu dengan santan dan beras. “Bumbunya biasa saja, standar, nggak ada yang rahasia,” ujarnya. Yang membuat rasa keluar adalah waktu dan ketelatenan mengaduk sekira satu jam harus dilakukan terus menerus sembari menjaga api tetap nyala sempurna.

Setelah semua bahan masuk, proses pengadukan berlangsung sekitar satu hingga satu setengah jam tanpa henti. Total waktu memasak bisa mencapai tiga jam hingga menjelang azan asar. Tungku yang digunakan masih berbahan kayu bakar. Panasnya tak selalu stabil, kadang api sulit menyala, kadang terlalu besar. Untuk itu perlu satu orang lagi yang mengatur kayu bakar.

Semua dikendalikan manual. Di atasnya, dandang tembaga berukuran jumbo menjadi andalan. “Dandang ini bukan barang pasaran. Harus pesan khusus, ini didatangkan dari Boyolali. Bahannya tembaga, kuat air dan panas,” jelas Serin. Dandang lama bisa menipis dan bocor setelah bertahun-tahun dipakai. Jika rusak, harus diganti dengan alat serupa yang sanggup bekerja lama.

Distribusi Bubur India yang Luas

Dalam satu kali masak, sekitar 21 kilogram beras diolah menjadi lebih dari 200 porsi bubur. Separuh disajikan untuk jamaah berbuka di masjid, separuh lagi dibagikan kepada warga sekitar. Uniknya bahan-bahan membuat bubur legendaris ini datang dari para donatur yang merupakan jemaah masjid, masyarakat sekitar, atau pun warga luar kota yang merasa memiliki kedekatan emosional dengan Masjid Jami Pekojan.

Beras, santan, tulang sapi, gula, teh, susu, hingga kayu bakar datang dari sumbangan jemaah dan simpatisan, bahkan dari luar kota. “Kadang dari Jakarta, dari mana-mana. Mereka tahu dari cerita orang atau dari media, terus datang ke sini,” ujarnya.

Saat waktu berbuka tiba, bubur india disajikan dalam mangkuk warna-warni. Di atasnya disiram sambal goreng tahu, labu siam, dan krecek. Pelengkapnya sederhana tapi lengkap: kurma, semangka, wingko, kerupuk, serta segelas teh atau susu.

Di Pekojan, bubur india lebih dari sekadar takjil. Ia menjadi ingatan kolektif tentang perjalanan, perjumpaan budaya, dan gotong royong.

Masjid Rahmatan Lil'Alamin
Perumahan Griya Salak Endah 2, Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat 16620
Luas Area800 m2
Luas Bangunan400 m2
Status LokasiGirik
Tahun Berdiri2012
  • "Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka, mereka itulah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." Surah At-Taubah (9) ayat 18